Joko
Tingkir
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Jaka Tingkir)
Dalam tradisi Jawa Jaka Tingkir, kadang-kadang
juga ditulis Joko Tingkir,
adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582 dengan
nama Hadiwijaya.
Daftar
isi
|
[sunting]Asal-usul
Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng
Pengging atau Ki Kebo
Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.[1]Kedua
ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar.
Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng
Pengging dihukum mati
karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak.
Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus.
Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula.
Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki
Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar
bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga.
Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela,
dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Silsilah Jaka Tingkir :
Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu
Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng
Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir
[sunting]Mengabdi ke Demak
Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal
di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawatMasjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir
pandai menarik simpati raja Demak Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala
prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas
menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk
yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk
tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG. Akibatnya, Jaka Tingkir pun
dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng
Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya).
Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu
Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung
Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat
ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai
ke tujuan.
Saat itu Trenggana sekeluarga sedang berwisata
di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan
sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada
telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada
prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila.
Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat
kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam babad tersebut seolah hanya kiasan,
bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil
sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati
raja kembali.
[sunting]Menjadi Raja Pajang
Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun
tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi.
Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga
menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Trenggana.
Sepeninggal Trenggana tahun 1546, puteranya yang
bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian
ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya
Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan
Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran
Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore.
Pangeran Sekar merupakan adik kandung Trenggana sekaligus juga merupakan murid
pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan
Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran
Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh
Adiwijaya di Pajang, tapi
gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi
mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.
Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto)
mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara
kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama
anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan
sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara.
Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.
Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela,
yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat
cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered
ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan
Gagak Rimang.
Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat
kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Hadiwijaya sebagai raja
pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Suan Prawoto yang
menjadi Adipatinya
Hadiwijaya juga mengangkat rekan-rekan
seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih
Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat
ngabehi.
[sunting]Sumpah setia Ki Ageng Mataram
Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara
itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah
Hadiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah
kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa
cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu
mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan
itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji
karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng
bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan
bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani,
membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram.
Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng
Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan
tanpa harus membayar pajak dan upeti.
[sunting]Menundukkan Jawa Timur
Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya
mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Trenggana,
banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.
Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan
Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya.
Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru,
yaitu Pajang, Madura,
dan Blambangan.
Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara
Hadiwijaya raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan
politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang
bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi
menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan
bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi
merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.
[sunting]Pemberontakan Sutawijaya
Sutawijaya adalah
putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat
Hadiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram,
dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya
mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram.
Mereka menemukan Sutawijayabersikap
kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu
pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan
secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar
kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim
utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya.
Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu
yang menjadi adipati Tuban), serta Patih
Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya.
Di tengah keramaian pesta, putra sulungSutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh
seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya
Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya
Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya,
sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan
tersebut hanya kecelakaan saja. Hadiwijaya menerima kedua laporan itu dan
berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama
Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui
Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama
Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut
Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
[sunting]Kematian
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Hadiwijaya untuk
menyerang Mataram.
Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun
menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut
menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam
perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu
gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di
tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung
dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang
makhluk halus anak buahSutawijaya bernama
Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan
menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya,
karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain
itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya
yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa
sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal
dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman
ibu kandungnya.
[sunting]Pengganti
Hadiwijaya memiliki beberapa orang anak.
Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden
Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan
dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri
sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan
Trenggana menjadi raja Demak.
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus)
untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama tahta Ngawantipura.
[sunting]Catatan kaki
1.
^ Kedua nama "Ki Ageng" ini bukanlah nama asli tetapi nama
sebutan yang terkait dengan asal daerah keduanya. Pengging adalah daerah di
wilayah Boyolali sekarang dan Tingkir merupakan tempat
di dekat Salatiga.
[sunting]Referensi
§
Andjar Any. 1980. Raden
Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang:
Aneka Ilmu
§
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007.
Yogyakarta: Narasi
§
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di
Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
§
Hayati dkk. 2000. Peranan
Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan
Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat
Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
§
Moedjianto. 1987. Konsep
Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
§
Purwadi. 2007. Sejarah
Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
§
Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since
c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN
978-0-230-54686-8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar